Thursday, May 10, 2007

Kuliah: Cari Ilmu atau Cari Nilai?

Ini pertanyaan retoris mungkin ya, hanya bisa dijawab oleh diri saya sendiri. Mungkin saja pertanyaan ini memang sudah bercokol di pikiran setiap mahasiswa, kawan-kawan semua, sejak menapaki hidup baru sebagai seorang mahasiswa. Waktu SMA, anak yang mendapat nilai 95 terlihat jelas lebih baik daripada yang mendapat nilai 81. Tapi tidak begitu di perguruan tinggi. Adanya cuma nilai A, B, C, D, E, dan T. Batas nilai juga ditetapkan oleh dosen dan lazim berbeda antara satu dosen dengan yang lainnya. Hak prerogatif dosen, istilah lainnya. Intinya, sistem penilaian lebih tegas!

Pengalaman selama 5 tahun jadi mahasiswa sih kadang suka takjub lihat nilai sendiri. Mata kuliah yang jelas-jelas saya suka, belajarnya niat banget, kadang nilainya koq gitu ya..ga sesuai harapan. Malah mata kuliah yang kurang menarik menurut saya, ga mudeng-mudeng belajarnya, malah nilainya sering ajaib (baca:bikin senyum lebar). Tapi selalu di akhir, saya mencoba mensyukuri semuanya sebagai bahan introspeksi diri. Mungkin nilai itu yang paling tepat buat saya menurut Allah SWT. Alhamdulillah, saya belum pernah sekalipun mengulang kuliah untuk memperbaiki nilai. Kalaupun dapat nilai C, mmm..selama ini dibiarin aja, hehehe..bukan sombong nih..males aja harus ngulang.

Nah, beberapa waktu lalu saya rada panas juga karena dapat nilai B untuk mata kuliah Kerja Praktek semester 1. Yang berKP di tempat lain rata-rata dapat nilai A. Naah..teman-teman bertanya dong..koq bisa dapat nilai itu. Ya..saya udah jelasin alasan pembimbing saya ngasih nilai segitu. Rata-rata sih pada ngasih tanggapan kasihan dan sok-sok bersimpati gitu. Mungkin mereka ngira saya ga bisa nyesuaiin diri sama orang-orangnya, ga ngerjain tugas tepat waktu dan tepat sasaran, dll. Biarin, mau bilang apa juga. yang tahu kebenaran cuma saya dan Allah. Pokoke, saya sudah mengerahkan potensi yang ada..hehe. Betewe, pada bingung kali ya, koq rese amat ngributin nilai KP..Soalnya porsi SKSnya emang gede: setengah SKS dari total SKS per semester. Bayangin aja sendiri, deh, keanjlokan nilai yang terjadi kalau KPnya cuma nilai B.

Eh, imbasnya, saya cerita kayak gitu, teman-teman yang semester ini dapat tempat KP di tempat tersebut jadi ngerasa tinggal nunggu ketiban sial aja, karena dua dari tiga pembimbing bakal ngasih nilai B. Saya pikir..ya manusiawi banget kan..mahasiswa kan selain nyari ilmu juga nyari nilai juga. Tapi kalau dari awal udah ilfil kayak gitu, ntar niat mencari ilmunya jadi ga lurus dong..Saya sih jujur aja dari awal agak cuek dan ga mikir nilai saya bakal apa. Baru pas mau keluar nilai, teman saya ngasih tahu..kecenderungan nilainya selalu begitu dari dulu. Oo..ada tuh, saya tulis di postingan bulan Maret, tentang deg-degannya menunggu nilai KP.

Saya sih udah gapapa.. Meskipun jadinya gagal cum laude (lagi!) dan ga bisa jadi the best di angkatan (sebenarnya ngincer duit hadiahnya kalo jadi the best..lumayan euy). Tadinya sih pengen nangis, tapi ga ada guna juga, kan. Nasi sudah jadi bubur ayam (loh?!). Toh, KP kemarin saya dapat ilmu lumayan banyak.

Once again, tetap semangat, ya, kawan. Ini buat diri sendiri juga. Allah ngasih kesempatan buat kuliah tuh dah harus disyukuri, apalagi kalau bukan dengan memanfaatkan waktu sebaik-baiknya untuk belajar, berinteraksi, dan menimba sebanyak mungkin hal dari lingkungan kampus. Tinggal beberapa bulan lagi, nih, perjuangan di kampus ini. Semoga apoteker ITB angkatan 2006/2007 semuanya lulus Oktober nanti..(Amien).


Generated by iDailyDiary from Splinterware

Wednesday, April 18, 2007

Apa Kata Dunia??

Hari Sabtu, 14 April lalu akhirnya...nonton juga film Naga Bonar Jadi 2. Kebetulan banget, coz ga ada rencana sebelumnya mo nonton. Ga ada duit euy, eh..tiba-tiba Iib ngajakin nonton malemnya setelah siangnya traktiran kelulusan di Pizza Hut Dago. Asyik..aku, Iib dan tarie akhirnya nonton bertiga lagi. Sedih juga sih..udah pada berubah status..jadi pada punya urusan masing-masing dan ujung-ujungnya jarang ketemu.

Betewe, sebelum nonton film ini memang udah kebelet banget nonton..dapet cerita dari temen-temen. Setelah nonton...bener banget bo! Pokoke top abis..akting pemainnya, jalan ceritanya, hikmahnya, apalagi humor yang diselipkan dalam cerita yang kadang bikin aku kesepet sambil senyum-senyum. Ada haru, tapi humor juga dengan suksesnya membuat penonton di bioskop ger-geran. Perasaan dari awal sampai akhir ketawa mulu deh :-D.

Mau tau sinopsisnya? Barangkali bisa membuat kalian pengin buru-buru nonton..Hehehe, kalau aku boleh menilai, boleh dibilang 'four thumbs up! Fully recommended banget apalagi buat anak muda Indonesia yang ngakunya masih peduli ama negeri ini. Hmm..ini dia cerita ringkasnya yang kuambil dari website resmi filmnya. Enjoy it!


Film ini merupakan sekuel dari NAGABONAR, produksi 1986, yang saat itu sukses meraih prestasi kualitas (Film Terbaik FFI 1987) sekaligus mendulang prestasi dalam mengumpulkan jumlah penonton.

Diproduksi atas kerjasama PT Demi Gisela Citra Sinema dengan PT Bumi Prasidi Bi-Epsi, film “NAGABONAR jadi 2” (NBj2) didedikasikan kepada Almarhum Drs Asrul Sani yang telah menciptaan tokoh rekaan NAGABONAR – pencopet yang diangkat jadi Jenderal dalam perang kemerdekaan.

Setelah kemerdekaan, NAGABONAR (Deddy Mizwar) seorang diri berhasil membesarkan anaknya, BONAGA (Tora Sudiro) - buah hati hasil pernikahannya dengan KIRANA (almarhumah), yang kini sukses jadi pengusaha di Jakarta.

Sebagai anak, BONAGA memiliki persamaan watak dan karakter dengan Bapaknya: jujur, bertanggungjawab, dan juga sama-sama tak mampu menyatakan cinta pada wanita. Dengan jiwa kepemimpinannya, BONAGA - bersama POMO (Darius Sinathrya), RONNIE (Uli Herdinansyah), JAKI (Michael Muliadro) - mengelola bisnis yang strategis. BONAGA bersama tiga sahabatnya merupakan cermin anak muda modern: metroseksual, pintar, cerdas, dan dinamis.

Konflik utama film ini adalah saat BONAGA dan sahabat-sahabatnya ingin ‘menjual’ kebun kelapa sawit milik Bapaknya di kampung halamannya, Sumatra Utara, kepada investor dari Jepang untuk dijadikan sebuah resort. Tentu saja NAGABONAR sangat marah sebab di kebun itu terdapat tiga kuburan orang yang ‘selalu hidup’ di hati NAGABONAR: KIRANA – istrinya, MAK-nya, dan Si BUJANG – sahabatnya. “Apa kata dunia?”

MONITA (Wulan Guritno), konsultan bisnis BONAGA, yang cantik, mandiri, profesional, dan mencintai BONAGA, berusaha menjembatani konflik antara Bapak dengan anak itu.

Pertemuannya dengan UMAR (Lukman Sardi), anak seorang pejuang yang jadi sopir bajaj dan menjalani kehidupan sederhana, menjadi titik balik sikap NAGABONAR dalam melihat dunia dan kehidupan.

Dikemas dalam drama komedi, film “NAGABONAR jadi 2” sarat dengan pesan tentang: CINTA laki-laki dan perempuan, CINTA orangtua dan anak, CINTA dalam persahabatan, CINTA tanah air, termasuk CINTA dalam melihat “perbedaan”.

Wednesday, April 04, 2007

Capek Sih..Tapi Seneng!

Capek tapi seneng..kemaren Selasa ikut tes kerja bareng temen-temen FA di hotel Jayakarta. Walaupun nggak lolos ke tahap selanjutnya (akhirnya ketahuan juga bahwa diskriminasi itu bener2 aja.), tapi kita hepi2 aja. Ada positif dan negatifnya juga sih kandas di psikotest. Positifnya..ke depan dah ga perlu lagi mikirin bakal milih perusahaan kayak gini lagi,(banyak kali yang serupa..) apply pun ga usah lah..ngabisin duit buat print CV aja, hihihi.. Negatifnya..masak sih aku langsung ga lolos di tahap awal..?! Emang kondisi psikologisku lagi ga bagus apa?! Enak aja..Walaupun semalaman begadang ngerjain analisis zat aktif dan sediaan (tahu kan ini kegiatan wajib dua tahun sekali buat anak-anak FA), perasaan aku sudah ngelakuin yang terbaik. Yah..whatever. "Nothing to lose, lah," kata seorang teman berulang-ulang. Sering-sering yok kayak gini..asyik kan bareng-bareng cari pengalaman ngelamar kerja.

Lagian karena semalam sebelumnya anak-anak FA pada abis begadang..Jadi yang ga lolos ke tahap selanjutnya kayak aku ini malah seneng karena bisa istirahat di rumah..Deuh..ternyata malamnya ada temen-temen adikku ngerjain tugas sambil begadang di rumah..Apaa? Itu komputer kan ga boleh dipindah ke mana-mana. Berat tau..Yehh..jadi aku malah ngungsi tidur di kamar ibu. Hehehe..padahal tadinya mau puas-puasin 'had a nice dream' sambil senyum manis mendengungkan satu lagu yang akhir-akhir ini makin sering diputer di kompi. Tah papa lah..:-)

Karena Aku dan Kau Begitu Berharga

Suatu ketika, ada seorang sahabat memulai khotbahnya dengan mengeluarkan selembar uang seratus ribu yang baru. Kemudian dia bertanya, "Siapa di antara kamu yang mau uang ini, jika diberikan ikhlas padamu?". Langsung saja yang mengangkat tangan banyak sekali.

Katanya lagi, " Ya, ini akan saya berikan, tapi sebelumnya biar saya melakukan hal ini." Sahabat tersebut meremas uang kertas seratus ribu itu, menjadi gulungan kecil yang kumal.

Kemudian dia buka lagi ke bentuk semula : lembaran seratus ribu, tapi sudah kumal sekali. Lalu dia bertanya, " Siapa yang masih mau uang ini?". Tetap saja banyak yang angkat tangan, sebanyak yang tadi.

"Oke, akan saya kasih, tapi biarkan saya melakukan hal ini." Dia menjatuhkan lembaran uang itu ke lantai, terus diinjak-injak pakai sepatunya yang habis berjalan di tanah becek sampai nggak karuan bentuknya. Dia tanya lagi, "Siapa yang masih mau?". Tangan-tangan masih saja terangkat. Masih sebanyak tadi.

"Nah, sahabatku, sebenarnya aku dan kau sudah mengambil satu nilai yang sangat berharga dari peristiwa tadi. Kita semua masih mau uang ini walau bentuknya sudah nggak karuan lagi. Sudah jelek, kotor, kumal... tapi nilainya nggak berkurang: tetap seratus ribu rupiah.

"Sama seperti kita. Walau kau tengah jatuh, tertimpa tangga pula... tengah sakit, tengah hancur pula, atau kau gagal, nggak berdaya, terhimpit, dan merasa terhina, kecewa dan terkhianati, atau dalam keadaan apapun, kau tetap nggak kehilangan nilaimu... karena kau begitu berharga. Jangan biarkan kekecewaan, perasaan, ketakutan, sakit hati, menghancurkan kamu, harapanmu, atau cita-citamu."

"Kamu akan selalu tetap berharga, bagi dirimu, bagi diriku, bagi sahabatmu, bagi sahabat yang lain dan kau tetap sama dimata Tuhanmu. Dia, Tuhanmu, akan berlari mendekatimu, jika kau berjalan menuju-Nya. Aku pun sahabatmu akan melakukan hal yang sama, karena fithrah setiap diri kita akan mulia jika mencoba mendekati sifat2 Tuhan kita. Di sanalah nilai dirimu berada."